Oleh GUSMARNI
Wartawan Ekonomi Provinsi Bengkulu
GOESSNEWS.COM – BENGKULU – Ketidakpastian global masih membayangi, namun arah pembangunan ekonomi Bengkulu terus diarahkan untuk tumbuh secara berkualitas yakni tidak hanya mengejar angka, tetapi juga menjamin stabilitas, keberlanjutan, dan manfaat yang merata bagi masyarakat.
Dalam forum Capacity Building Media bersama Bank Indonesia di Hotel Sapanak, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuana Hidayat, menegaskan pentingnya menjaga optimisme ekonomi melalui fondasi yang kuat dan kebijakan yang adaptif.
“Pertumbuhan ekonomi global memang melambat, namun kita tetap harus menjawabnya dengan strategi yang fokus dan terarah. Ekonomi Bengkulu tumbuh 4,84% di triwulan I 2025, dan itu adalah sinyal positif,” ungkap Wahyu.
Fokus Kebijakan: Stabilitas, Digitalisasi, dan Ketahanan Daerah
Bank Indonesia menetapkan tiga pilar utama dalam menjaga arah pertumbuhan nasional dan regional:
1. Stabilitas Nilai Tukar & Inflasi : BI tetap menjaga suku bunga acuan di 6,25% dan fokus mengendalikan inflasi dalam sasaran 2,5±1%.
2. Akselerasi Transformasi Digital: Melalui QRIS antarnegara (Indonesia–Jepang dan uji coba dengan Tiongkok), sistem pembayaran menjadi lebih efisien dan inklusif.
3. Penguatan Ketahanan Daerah : Mendorong sektor unggulan seperti pertanian, pengolahan, dan perdagangan melalui kebijakan makroprudensial yang akomodatif.
Ekonomi Berkualitas: Konsumsi Kuat, Investasi Menjadi Tantangan
Pertumbuhan ekonomi Bengkulu masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan sektor produktif seperti pertanian dan industri pengolahan. Namun untuk mencapai pertumbuhan yang lebih berkualitas, perlu dorongan terhadap investasi sektor riil dan infrastruktur.
Outlook triwulan II 2025 diperkirakan sedikit melandai karena faktor musiman pasca-Ramadhan. Namun, sejumlah stimulus seperti gaji ke-13 ASN dan revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai tetap menjadi penggerak.
Adapun tantangan ke depan mencakup:
* Penurunan belanja pemerintah karena efisiensi pasca-Pemilu,
* Ketergantungan pada komoditas primer,
* Hambatan logistik dan pelabuhan untuk ekspor.
Inflasi Terkendali, Ketahanan Pangan Jadi Kunci
Inflasi Bengkulu per April 2025 tercatat hanya 0,96% (yoy) menunjukkan pengelolaan harga yang efektif. Melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), pemerintah dan BI fokus mengendalikan harga beras, cabai merah, dan bawang merah, yang menjadi komoditas strategis rakyat.
Targetnya: menjaga inflasi pangan di rentang 3,0–5,0%, tanpa mengorbankan kelangsungan petani dan pelaku usaha.
Pembiayaan Inklusif untuk Pertumbuhan Berdaya Tahan
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas juga ditopang oleh sistem keuangan yang sehat dan inklusif:
* Kredit rumah tangga dan korporasi tumbuh masing-masing 5,86% dan 5,26%,
* Dana pihak ketiga tumbuh 9,19%, mencerminkan partisipasi masyarakat dalam sektor keuangan,
* Transaksi digital melalui QRIS dan BI-Fast terus meningkat, memperluas akses dan efisiensi.
Penutup: Optimisme Harus Dibangun dengan Fondasi Kuat
Bengkulu menunjukkan bahwa optimisme ekonomi tidak cukup hanya dengan harapan, tetapi harus ditopang oleh kebijakan terukur, inovasi digital, efisiensi fiskal, dan penguatan sektor riil. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas artinya bukan hanya tumbuh, tetapi juga berdaya tahan, inklusif, dan berpihak pada masyarakat luas.









