Kejati Bengkulu Gelar Diskusi Sejarah Tokoh Edward Coles, Didukung Kepala Pusda dan Tokoh Masyarakat

GOESSNEWS.COM – BENGKULU – Kepala Kejaksaan Tinggi Bengkulu, Victor Antonius Saragih Sidabutar, menginisiasi sebuah diskusi sejarah bersama sejumlah tokoh masyarakat Kota Bengkulu. Diskusi ini mengangkat sosok Edward Coles, tokoh penting dalam sejarah kolonial Inggris di wilayah Bencoolen (Bengkulu), yang diketahui memiliki keterkaitan genealogis dengan Jaksa Agung Muda Intelijen (Jamintel) Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani.

Turut hadir dalam diskusi tersebut Kepala Pusat Data dan Arsip (Pusda) Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi, serta sejumlah tokoh masyarakat, termasuk Arius, yang menyoroti aspek identitas dan latar belakang Edward Coles. Dalam paparannya, Arius menyampaikan bahwa Edward Coles berbeda dari tokoh Eurasia lainnya seperti Braham. Ia menekankan bahwa Coles dengan tegas menyatakan dirinya tidak memiliki darah Inggris.

Diskusi ini membahas perjalanan panjang Edward Coles, yang memulai kariernya di Fort Marlborough sebagai Faktor pada 7 November 1759. Kariernya terus menanjak hingga menjabat sebagai Gubernur Fort Marlborough dari 14 Oktober 1781 hingga 28 Februari 1785. Coles dikenal memiliki peran penting dalam jaringan perdagangan dan politik lokal, termasuk keterlibatannya dalam proyek Balambangan dan hubungan diplomatik dengan penguasa lokal.

Setelah masa jabatannya sebagai Gubernur, Coles diketahui aktif dalam pengembangan perkebunan rempah di wilayah Sungai Silebar dan memiliki pengaruh kuat melalui ikatan keluarga dengan pemimpin adat setempat. Ia sempat kembali menjabat sebagai Kepala di Padang dari tahun 1802 hingga 1807, sebelum diberhentikan oleh Residen Thomas Parr, yang kemudian tewas dalam peristiwa pembunuhan misterius pada Desember 1807 peristiwa yang diduga turut melibatkan Coles.

Coles wafat di Bengkulu pada 23 Desember 1810 dalam usia 74 tahun. Warisan sejarahnya kini kembali menarik perhatian publik, terutama setelah diketahui bahwa Reda Manthovani, Jamintel Kejagung RI, merupakan keturunan ke-7 dari Raja Selebar Bengkulu dan sekaligus keturunan dari Edward Coles. Reda sendiri telah dianugerahi gelar adat tertinggi “Datuk Payung Negara” pada 27 Juli 2024 lalu oleh Majelis Adat Melayu Bengkulu.

Kepala Pusda Provinsi Bengkulu, Meri Sasdi, menyatakan dukungannya terhadap diskusi sejarah ini. Ia bahkan menyebut pentingnya mendokumentasikan sejarah tokoh Edward Coles dalam bentuk buku agar dapat menjadi referensi generasi mendatang.

“Saya sangat mendukung sekali diskusi yang diinisiasi Kajati Bengkulu ini. Bahkan, ke depan, saya berharap bisa diterbitkan buku khusus tentang Edward Coles,” ujar Meri.

Diskusi ini menjadi langkah awal untuk menggali kembali sejarah lokal Bengkulu dan kontribusi tokoh-tokoh penting dalam perjalanan panjang daerah ini, baik dalam konteks kolonialisme maupun warisan budaya yang membentuk identitas masyarakat Bengkulu hari ini.Muf

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *