GOESSNEWS.COM – Bengkulu – Proyek pembangunan tanggul di kawasan Jalan Irian, Kelurahan Sukamerindu, Kecamatan Sungai Serut, Kota Bengkulu, menuai keluhan dari warga setempat. Peninggian jalan yang merupakan bagian dari pembangunan tanggul disebut mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan mikro (UMKM).
Kondisi jalan yang kini ditinggikan antara 1 hingga 2 meter membuat akses menuju rumah warga dan warung menjadi terputus. Sejumlah pelaku UMKM yang biasa menjalankan usahanya secara harian terpaksa berhenti beroperasi karena pembeli tidak lagi bisa menjangkau lokasi usaha mereka.
“Warung-warung dan rumah kami seperti tenggelam karena posisi jalan jauh lebih tinggi. Akibatnya aktivitas berjualan terhenti, dan ini sangat berdampak pada ekonomi warga,” ungkap Yusmawi Yusup, mantan Ketua RT 9 Kelurahan Sukamerindu, Selasa (16/7/2025).
Ia berharap pihak kontraktor pelaksana proyek serta Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) VII Bengkulu segera memberikan solusi, seperti membangun akses sementara ke rumah warga dan warung yang terdampak langsung peninggian jalan.
Selain soal akses, Yusmawi juga menyoroti kondisi drainase di kawasan tersebut. Ia meminta pemerintah melakukan normalisasi saluran air Sungai Bangkahulu dengan cara pengerukan sedimen, pendalaman saluran, serta perbaikan siring dan sistem pembungan air. Termasuk usulan pelebaran dan peninggian jembatan serta pintu air di RT 9 untuk mempercepat aliran air saat banjir.

“Kami butuh jaminan air tidak lagi menggenangi pemukiman saat hujan deras. Saluran harus lancar, agar banjir cepat surut ke Sungai Bangkahulu,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Satker BWSS VII Bengkulu, Hadi Buana, saat dikonfirmasi via pesan WhatsApp menjelaskan bahwa proyek pembangunan tanggul tidak hanya berupa dinding parapet, namun akan disusul dengan penimbunan untuk membentuk jalan dengan konstruksi rigid beton.
“Peninggian jalan atau tanggul itu sudah disesuaikan dengan Muka Air Banjir (MAB) rencana yang ingin dikendalikan. Ini bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu tahap. Pengendalian banjir membutuhkan proses dan bertahap,” ujar Hadi.
Ia menyebut total kebutuhan dana untuk pembangunan pengendalian banjir Sungai Air Bengkulu mencapai Rp2,8 triliun, sehingga penyelesaiannya akan bergantung pada skala prioritas dan kemampuan anggaran pemerintah.
“Kami memahami adanya dampak sosial terhadap warga dan akan memperhatikannya semaksimal mungkin. Namun mohon kesabaran, karena semua pembangunan ini melalui tahapan. Untuk rumah-rumah yang posisinya di bawah akan diupayakan solusi dengan bangunan yang bersifat komunal dan sesuai standar,” tambah Hadi.
Pihak BWSS juga menyampaikan bahwa perbaikan drainase akan menjadi bagian dari tahapan lanjutan pembangunan.
Warga berharap ke depan pembangunan tanggul ini tidak hanya mengutamakan aspek teknis, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan dan keberlanjutan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.Gus









