GOESSNEWS.COM – KEPAHIANG – Inovasi pertanian berbasis teknologi mulai menunjukkan hasil di Kabupaten Kepahiang. Penerapan Green House Smart Farming yang dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) memasuki tahap panen perdana cabai keriting di Desa Bukit Barisan, Kecamatan Merigi, Selasa (6/10/2026).
Panen perdana tersebut dilakukan langsung Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat.
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah dalam mendorong transformasi pertanian konvensional menuju sistem budidaya yang lebih modern, efisien, sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan kondisi cuaca.
Keberadaan green house pintar tersebut diharapkan menjadi solusi terhadap persoalan ketidakpastian cuaca yang selama ini menjadi salah satu tantangan petani cabai.
Perubahan cuaca yang ekstrem dapat memengaruhi produksi, mulai dari kekurangan air saat musim kemarau hingga tingginya curah hujan yang berpotensi menyebabkan tanaman dan buah cabai mengalami pembusukan.
Melalui sistem green house, kondisi lingkungan tanaman dapat dikendalikan dengan lebih baik sehingga proses budidaya tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca di luar.
Bupati Kepahiang H. Zurdi Nata mengatakan penerapan teknologi pertanian harus menjadi momentum untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim.
Menurutnya, teknologi kini bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan sektor pangan yang semakin kompleks.
“Dengan sistem ini, petani tidak perlu terlalu khawatir terhadap kondisi cuaca. Saat panas, tanaman tetap mendapatkan pengelolaan air yang sesuai, sedangkan ketika hujan, tanaman lebih terlindungi,” ujar Zurdi Nata.
**Budidaya Dikendalikan Melalui Teknologi**
Salah satu keunggulan green house tersebut adalah penerapan teknologi Internet of Things (IoT). Sistem digital memungkinkan sejumlah proses dalam budidaya tanaman dikendalikan secara lebih praktis menggunakan perangkat elektronik.
Pengaturan penyiraman, pemupukan hingga pemantauan kebutuhan tanaman dapat dilakukan melalui gawai. Dengan sistem tersebut, petani dapat melakukan pengawasan secara lebih fleksibel tanpa harus selalu berada di lokasi.
Penerapan sistem otomatis juga diharapkan dapat meningkatkan efisiensi tenaga. Sejumlah aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat dibantu teknologi sehingga petani dapat mengoptimalkan waktu dan tenaga dalam mengelola usaha taninya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kepahiang, panen perdana ini menjadi indikator awal bahwa konsep pertanian berbasis teknologi memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas.
Tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, sistem tersebut juga diharapkan mendorong pola budidaya yang lebih terukur dan efisien sehingga dapat meningkatkan daya saing komoditas pertanian.
**Petani Diminta Rawat Green House**
Zurdi Nata juga mengingatkan Kelompok Tani Bukit Tani selaku pengelola untuk menjaga dan memanfaatkan fasilitas green house dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, fasilitas tersebut bukan sekadar bangunan pertanian, tetapi merupakan aset yang dapat menjadi bagian dari pengembangan pertanian Kepahiang dalam jangka panjang.
“Jaga dan manfaatkan fasilitas ini dengan sungguh-sungguh. Ini bukan hanya sebuah bangunan, tetapi bagian dari masa depan pertanian kita. Harapannya, produksi meningkat dan kesejahteraan petani ikut tumbuh,” tegasnya.
Panen perdana cabai keriting tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kepahiang dan Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi.
Sinergi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas dan panen perdana. Penguatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi, pengelolaan produksi hingga pengembangan pasar menjadi bagian penting agar inovasi tersebut memberikan dampak ekonomi secara berkelanjutan.
Dengan hadirnya green house smart farming berbasis IoT, Kabupaten Kepahiang mulai membangun fondasi pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Inovasi di Desa Bukit Barisan diharapkan dapat menjadi contoh bahwa teknologi dapat dipadukan dengan kemampuan petani untuk menciptakan sistem produksi yang lebih efisien, tangguh, serta berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.**









