GOESSNEWS.COM – BENGKULU – Kickoff dan Capacity Building Bencoolen Investment Challenge (BLINC 3.0) diselenggarakan di Hotel Santika pada hari Rabu, 15 April 2026. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Sekretaris Daerah, Dr. H. Herwan Antoni, S.KM., M.Kes., M.Si. serta dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu, Hj. Yuliswani, SE., MM, Perwakilan Kepala DPMPTSP Provinsi Bengkulu, Sekretaris Daerah, Bapperida, dan DPMPTSP dari seluruh Kabupaten/Kota se-Provinsi Bengkulu.
Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Perwakilan Bank Indonesia yang menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan perekonomian global, seperti perubahan kebijakan fiskal yang semakin terpusat serta ketidakstabilan geopolitik, perekonomian daerah tetap menunjukkan kinerja yang cukup baik, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang masih positif pada tahun 2026. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis untuk menjaga momentum tersebut, salah satunya melalui peningkatan investasi daerah. Melalui Bencoolen Investment Challenge (BLINC) 3.0, diharapkan dapat mendorong lahirnya proyek-proyek investasi yang berkualitas dan siap ditawarkan kepada investor, sehingga mampu mengembangkan sektor-sektor potensial di daerah. Berdasarkan pemantauan Bank Indonesia, sepanjang periode 2022 hingga 2025 telah tercatat sedikitnya 37 proyek yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, yang terus didorong untuk diperkuat dari sisi kelayakan dan daya tarik investasi, sehingga ke depan dapat berkontribusi lebih optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Selanjutnya, Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu dalam sambutannya menegaskan bahwa BLINC 3.0 merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kesiapan proyek investasi daerah agar lebih kompetitif dan mampu menarik minat investor. Beliau menekankan pentingnya komitmen seluruh pemerintah kabupaten/kota dalam menyiapkan proyek unggulan yang tidak hanya memiliki potensi ekonomi, tetapi juga didukung oleh kesiapan implementasi, termasuk aspek perizinan, ketersediaan lahan, dan dukungan kebijakan. Pada kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu secara resmi membuka rangkaian kegiatan BLINC 3.0 bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, yang didampingi oleh Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu serta perwakilan DPMPTSP Provinsi Bengkulu.
Setelah kegiatan dibuka secara resmi, acara dilanjutkan dengan penandatanganan komitmen bersama sebagai wujud nyata penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas koordinasi dan pelaporan investasi daerah. Penandatanganan tersebut dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu, perwakilan DPMPTSP Provinsi Bengkulu, serta Sekretaris Daerah dari seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Bengkulu.
Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian paparan mengenai rangkaian kegiatan BLINC 3.0 oleh Tim Regional Investor Relations Unit (RIRU), yang diawali dengan tahapan kickoff sebagai penanda dimulainya program, kemudian dilanjutkan dengan proses inkubasi dalam rangka penguatan kapasitas dan penyempurnaan konsep proyek, tahapan kurasi untuk menilai kelayakan dan kesiapan proyek, pelaksanaan site visit ke proyek-proyek potensial sebagai bagian dari pendalaman dan verifikasi lapangan, hingga tahap coaching bagi proyek-proyek terpilih guna meningkatkan kualitas dan daya saing proyek investasi. Dalam pemaparan tersebut juga dijelaskan mengenai mekanisme pelaporan yang dilakukan secara berkala setiap bulan sebagai bentuk komitmen dari masing-masing kabupaten/kota dalam memantau perkembangan proyek investasi, sehingga proses monitoring dan evaluasi dapat berjalan secara optimal dan terkoordinasi dengan baik.
Untuk meningkatkan kapasitas peserta BLINC 3.0 yang terdiri dari DPMPTSP dan Bapperida seluruh kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai instansi strategis. Narasumber dari PwC Indonesia menyampaikan materi mengenai tren investasi global, kerangka penyusunan proyek investasi daerah berbasis 5 Case Model, serta strategi peningkatan bankability dan investor engagement. Selanjutnya, Bappenas memaparkan peran daerah dalam mendukung transformasi ekonomi nasional melalui agenda Asta Cita, sekaligus penguatan pengembangan proyek investasi daerah. Sementara itu, BKPM menyampaikan strategi pengembangan potensi daerah menjadi proyek investasi yang siap ditawarkan kepada investor, dengan menekankan pentingnya kesiapan aspek perencanaan, promosi, dan kemudahan berusaha.
Pada sesi pemaparan proyek investasi, seluruh kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu menyampaikan berbagai usulan proyek unggulan daerah yang mencerminkan potensi masing-masing wilayah. Pemaparan diawali oleh Kabupaten Bengkulu Selatan yang mengusulkan proyek rice milling unit dan packaging beras sebagai upaya menjawab peningkatan kebutuhan pangan serta peningkatan kualitas beras, dengan nilai investasi sekitar Rp230,6 miliar. Selanjutnya, Kabupaten Bengkulu Tengah memaparkan potensi investasi di sektor pariwisata melalui pengembangan Danau Gedang dan sektor industri berupa pabrik minyak goreng di kawasan Talang Empat dan peluang pengembangan sektor jasa seperti perhotelan dan rumah sakit swasta. Berikutnya, Kabupaten Bengkulu Utara menyampaikan rencana pengembangan kawasan agribisnis terpadu berbasis zero waste dan circular economy seluas \pm79,86 hektar, dengan kebutuhan investasi sekitar Rp95,2 miliar serta proyeksi pendapatan Rp12-14 miliar per tahun. Penyampaian kemudian dilanjutkan oleh Kabupaten Kaur yang mengusulkan pengembangan Laguna Waterpark Resort dengan nilai investasi sekitar Rp16,98 miliar, sebelum kemudian Kabupaten Kepahiang menyoroti potensi besar komoditas kopi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dan masih membutuhkan dukungan investasi.
Memasuki sesi berikutnya, Kabupaten Mukomuko menyampaikan berbagai peluang investasi, mulai dari pembangunan pelabuhan CPO untuk mendukung efisiensi distribusi, pengembangan pusat perbelanjaan terintegrasi dengan wisata, hingga pengolahan limbah dan pembangunan industri pendukung. Selanjutnya, Kabupaten Seluma mengusulkan pengembangan sektor perikanan melalui program ikan larangan serta pembangunan pabrik pakan ikan dan ayam. Penyampaian kemudian dilanjutkan oleh Kabupaten Lebong dengan usulan pengembangan ekosistem kopi berbasis koperasi produksi, serta dilanjutkan Kabupaten Rejang Lebong yang memaparkan rencana pengembangan kawasan wisata Danau Mas Harun Bastari dengan berbagai aktivitas pendukung pariwisata. Sebagai penutup sesi pemaparan, Kota Bengkulu menyampaikan rencana pengembangan kawasan wisata hutan mangrove di Kampung Melayu yang didukung oleh ketersediaan lahan pemerintah serta akses infrastruktur yang memadai.
Secara keseluruhan, terdapat 13 proposal proyek investasi yang disampaikan dalam kegiatan Kickoff dan Capacity Building BLINC 3.0. Namun demikian, usulan tersebut masih bersifat awal dan belum final, sehingga masih terbuka peluang bagi masing-masing kabupaten/kota untuk melakukan penyempurnaan berdasarkan masukan dari para narasumber, baik dari sisi kelayakan finansial, kejelasan model bisnis, maupun kelengkapan data pendukung. Seluruh proyek yang diusulkan akan melalui tahapan inkubasi dan kurasi guna meningkatkan kualitas dan kesiapan proyek secara bertahap. Dari proses tersebut akan dipilih proyek-proyek terbaik yang masuk dalam top 5 proyek unggulan daerah lalu akan diseleksi kembali dua proyek terbaik yang akan difasilitasi penyusunan feasibility study (FS) serta coaching guna memastikan proyek semakin siap untuk ditawarkan kepada investor.
Sebagai penutup, kegiatan Kick Off dan Capacity Building BLINC 3.0 diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam mendorong peningkatan kualitas proyek investasi di Provinsi Bengkulu. Melalui sinergi dan komitmen bersama antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta seluruh pemangku kepentingan, diharapkan seluruh rangkaian BLINC 3.0 dapat berjalan dengan optimal dan menghasilkan proyek-proyek investasi yang berkualitas, siap ditawarkan, serta mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu.**








