BENGKULU – Menghadapi potensi bencana alam di musim penghujan, Satuan Tugas (Satgas) Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) 7 bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Bengkulu menggelar apel siaga bencana di Workshop KM 6,5 Kota Bengkulu, Selasa (4/11).
Kepala BWSS 7, Dr.Wiel Musyawiry Suryana, ST, MT, didampingi Kasatker Dr. Hadi Buana dan PPK Harmen Sajrani, menjelaskan bahwa beberapa wilayah di Bengkulu tergolong rawan bencana, seperti banjir, abrasi pantai, dan tanah longsor. “Banjir umumnya terjadi di Kota Bengkulu, abrasi banyak terjadi di Bengkulu Utara hingga Mukomuko, sedangkan longsor sering muncul di Bengkulu Tengah, Kepahiang, dan Lebong,” terangnya.
Menurut Wiel, apel siaga ini bertujuan memastikan kesiapan satgas dan peralatan lapangan. Saat ini BWSS 7 telah menyiagakan 15 unit alat berat jenis ekskavator besar dan satu mini amfibi untuk menjangkau daerah yang sulit di lalui kendaraan darat dan beberapa truk untuk mendukung penanganan cepat di titik rawan bencana. “Kami menyiapkan personel dan peralatan agar bisa segera bergerak saat bencana terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPJN Bengkulu, Dr. Zepnat Kambu, ST, MT, didampingi Satker PJN Wilayah 1 Tendi Hardianto, ST, MT, dan Satker PJN Wilayah 2 Suwarno ST, menambahkan bahwa jalan nasional sepanjang 782,2 kilometer di Provinsi Bengkulu memiliki sejumlah titik rawan longsor. “Kami telah menempatkan alat berat di workshop agar dapat segera dikerahkan bila terjadi bencana,” katanya.
Zepnat juga menyebut, beberapa pekerjaan penanganan dan pelebaran jalan nasional terkendala pemangkasan anggaran. Namun, BPJN Bengkulu tetap menargetkan penyelesaian pekerjaan infrastruktur hingga 99 persen pada akhir Desember 2025. “Kami berkomitmen untuk terus menjaga konektivitas jalan nasional meski dengan keterbatasan anggaran,” tegasnya.
Apel siaga ini menjadi langkah antisipatif sekaligus bentuk kesiapan bersama dalam menghadapi potensi bencana yang kerap melanda wilayah Bengkulu setiap tahun.Gus









